Saturday, February 23, 2013

Antara Hamba dan Rabbnya

Apa kira-kira yang dapat dilakukan oleh seseorang yang ubun-ubun dan jiwanya di tangan Allah Ta’ala, hatinya berada di antara dua jari dari jemari-Nya; Dia Subhanahu wa Ta’ala berkuasa membolak-balikkan hati itu sekehendaknya. Hidup dan matinya pun ada di tangan-Nya. Kebahagiaan dan celakanya ada di tangan-Nya. Gerak dan diamnya, juga ucapan dan perbuatannnya, semata-mata terjadi berkat izin dan kehendak-Nya. Ia tidak dapat bergerak, kecuali dengan seizin-Nya; tidak pula mampu berbuat, kecuali dengan kehendak-Nya.

Jika seorang hamba menyerahkan setiap urusannya kepada diri sendiri, berarti ia telah menyerahkan semua itu pada kelemahan, kesia-siaan, kelalaian, dosa dan kesalahan. Jika dia menyerahkan semua itu kepada semua makhluk selain dirinya, berarti ia telah menyerahkan sesuatu yang tidak dapat memberikannya bahaya maupun manfaat, kematian maupun kehidupan, dan yang tidak mampu untuk membangkitkan segala yang sudah mati. Apabila Allah membiarkan hamba itu pada kondisi demikian, niscaya ia akan dikuasai oleh musuh (syaitan) dan dijadikan tawanannya.

Maka, jelas sekali bahwa seorang hamba tidak dapat terlepas dari Allah walau sekejap mata pun. Bahkan, selama masih bernafas, ia pasti membutuhkan Allah dalam setiap bagian terkecil kehidupannya, baik lahir maupun batin. Kefakiran hakikilah yang membuat setiap hamba amat membutuhkan Allah. Ironinya, hamba selalu menyalahi aturan Allah dan berpaling dari-Nya, serta membuat-Nya benci karena kemaksiatan yang diperbuatnya. Meskipun pada hakikatnya setiap hamba benar-benar butuh kepada Allah dalam semua hal, tetapi ia tidak mengingat-Nya, bahkan melupakan-Nya begitu saja. Padahal, ia pasti akan kembali kepada-Nya dan akan berdiri di hadapan-Nya di akhirat kelak.



Sumber: Fawaaid Al-Fawaaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Diketik ulang dari Fawaidul Fawaid cetakan Pustaka Imam Syafi'i

No comments:

Post a Comment