Tuesday, March 5, 2013

Ketakwaan Ada Di Hati



Ibadah Hati

Abu Ad-Darda’ berkata, “Alangkah terpujinya tidur dan berbuka puasanya orang-orang yang bijak lagi dalam pengetahuannya. Lihatlah, bagaimana mereka mengungguli shalat malam dan puasanya orang-orang bodoh. Ingatlah bahwa sebiji sawi ibadah yang dilakukan orang-orang yang bertakwa adalah lebih utama daripada sebesar gunung ibadah yang dilakukan orang-orang yang terperdaya.” (Az-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal, hal 137-138)

Ungkapan ini merupakan salah satu ungkapan yang sarat hikmah. Di samping itu, ia merupakan bukti kesempurnaan pemahaman para sahabat radhiyallahu anhum dan bahwa mereka adalah generasi yang selalu berada di garis terdepan dalam meraih setiap kebaikan daripada generasi yang datang sesudah mereka.

Dan ketahuilah, seorang hamba hanya dapat menempuh jalan menuju Allah dengan hati dan harapannya, bukan sekadar dengan anggota badannya saja.

Hakikat Takwa

Ketakwaan pada hakikatnya terletak pada ketakwaan hati, bukan ketakwaan anggota badan. Pernyataan ini sebagaimana firman Allah Ta’ala berikut:

{ ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ}
Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Q.S. Al-Hajj: 32)

{ لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ }

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Q.S. Al-Hajj: 37)


Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun pernah bersabda:

التَّقوَى ههُنَا

“Takwa itu ada di sini.” (H.R. Muslim, no. 2564, dari Abu Hurairah)

Ketika menegaskan hal itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menunjuk dada beliau.

Orang yang cerdas –dengan berbekal tekad yang bulat, cita-cita yang tinggi, tujuannya yang mulia, niatnya yang baik, dan dengan sedikit amal saja- mampu menempuh jarak beberapa kali lipat lebih jauh daripada jarak yang dapat ditempuh oleh orang yang tidak berbekal dengan sifat-sifat tersebut. Tanpa semua itu, seseorang pasti akan menempuh perjalanannya dengan kelelahan dan kesulitan yang luar biasa. Sungguh, keinginan kuat yang diiringi dengan rasa cinta kepada-Nya, bisa menghilangkan kesulitan dan membuat perjalanan menjadi lebih menyenangkan.

Tekad dan Keinginan Kuat

Menjadi yang terdepan dan pemenang dalam perjalanan menuju Allah Ta’ala hanya dapat dilakukan dengan tekad, keinginan dan niat yang kuat. Orang yang mempunyai tekad kuat –sekalipun pasif- mampu mendahului orang yang banyak beramal tapi tidak memiliki tekad yang kuat. Akan tetapi, jika kedua orang itu mempunyai tekad yang sama, maka yang lambat bertindak akan dikalahkan oleh orang yang lebih aktif beramal.





Sumber: Fawaaid Al-Fawaaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

diketik ulang dari Fawaidul Fawaid, Pustaka Imam Syafi'i

No comments:

Post a Comment