Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Wednesday, July 17, 2013

Tertipu Oleh Diri Sendiri


Sebelum setan menipu daya Adam dan Hawa, dia terlebih dahulu sudah tertipu daya oleh dirinya sendiri. Dia mendapat kemalangan. Demikian juga anak cucunya, pengikut-pengikutnya dan siapa saja yang menaatinya dari kalangan jin maupun manusia.

Bentuk tipu daya setan terhadap dirinya sendiri adalah, bahwasanya tatkala Allah memerintahkannya bersujud kepada Adam alaihissalam, maka sebenarnya letak kebahagiaan, kemuliaan dan keselamatannya adalah dalam menaati dan menuruti perintah Allah itu. Namun jiwanya yang bodoh dan aniaya itu membisikkan bahwa jika ia sampai bersujud kepada Adam, maka itu berarti melecehkan dan merendahkan dirinya. Sebab, hal itu berarti ia tunduk dan sujud kepada makhluk yang tercipta dari tanah, padahal dirinya tercipta dari api. Api itu –menurutnya- lebih mulia ketimbang tanah. Maka, yang tercipta dari api itu lebih baik daripada yang tercipta dari tanah. Dengan demikian, ketertundukan makhluk yang lebih utama terhadap makhluk yang lebih rendah itu berarti pelecehan terhadap dirinya.

Tatkala kebodohan ini menghinggapi hatinya, ditambah lagi munculnya rasa dengki terhadap Adam lantaran ia tahu bahwa Allah telah mengistimewakan Adam dengan berbagai kemuliaan –yaitu, Dia menciptakannya dengan tangan-Nya, menipu-Nya dengan ruh-Nya, menyuruh malaikat agar bersujud kepadanya, mengajarkan segala macam nama kepadanya yang tidak Dia ajarkan kepada malaikat sekalipun, serta menempatkannya di surga- maka kedengkian dari musuh Allah itu semakin mengklimaks. Ia memandang Adam sebagai makhluk yang tercipta dari tanah kering seperti tembikar, sehingga ia pun tak habis pikir seraya berkata, “Apa mulianya makhluk ini? Sekiranya ia dikuasakan atas diriku, maka pasti akan aku durhakai ia. Dan jika aku dikuasakan atas dirinya, pasti akan aku hancurkan ia!”

Tuesday, July 16, 2013

Tidak Memprotes Hikmah Ilahi



MASALAH ini telah dibahas berkali-kali, namun mengulanginya secara permanen sangat penting untuk mengingatkan hati.

Seorang mukmin wajib ketahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Pemilik Yang Mahabijaksana yang tak melakukan kesia-siaan, dan pengetahuan ini melarangnya memprotes takdir-Nya.

Sejumlah makhluk telah memprotes Allah dan hikmah-Nya. Itu adalah tindakan yang menjadikan seseorang kafir. Makhluk pertama yang memprotes hikmah Allah adalah Iblis dengan mengatakan, “Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api sedang ia Engkau ciptakan dari tanah.” [Q.S. Al-A’raf: 12], yakni tindakan-Mu mengunggulkan tanah atas api adalah tindakan yang tidak sesuai dengan hikmah!!!

Monday, July 15, 2013

Dunia Sengaja Dikeruhkan


ORANG yang merenungkan hal-ihwal dunia pasti akan tahu bahwa ia diciptakan untuk dijauhi. Karena itu, orang yang ingin menikmatinya pasti akan menemukan kesusahan di balik setiap kesenangannya serta kekeruhan di balik setiap kejernihannya. Pendek kata, setiap bagian dunia yang diangkat pasti akan diturunkan.

Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- mencintai Aisyah –radhiyallahu anha-, lalu beliau diuji dengan ‘hadits ifk’ (tuduhan melakukan zina yang diarahkan kepada Aisyah oleh orang-orang munafik). Dan beliau mencintai Zainab, kemudian turunlah ayat:

فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌۭ مِّنْهَا وَطَرًۭا

“Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya)” [Q.S. Al-Ahzab: 37]

Seorang pecinta dunia yang mendapatkan apa yang dicintainya pasti sadar bahwa ia akan berpisah darinya. Oleh sebab itu, kehidupannya menjadi tidak nyaman, meski ketika itu kekasihnya masih ada di dekatnya. Keadaan ini telah diungkapkan seorang penyair dengan perkataannya berikut:

أتم الحزن عندي في سرور ... تيقن عنه صاحبه انتقالاً

“Kesedihan paling menyedihkan bagiku adalah kebahagiaan
Yang diyakini pemiliknya akan segera berubah”

Orang yang berakal pasti akan tahu bahwa tujuan penciptaan kekeruhan di dunia adalah menjauhkan manusia darinya. Karena itu, ia pun hanya memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya dan menolak menyibukkan diri dengannya. Ia memilih memfokuskan konsentrasinya mengabdi kepada Allah Ta’ala. Adapun orang yang tidak melakukan tindakan seperti itu pasti akan menyesal pada saat semuanya sudah terlambat.

[Shaid Al-Khaathir, Ibnul Jauzy]

Sunday, July 14, 2013

Hakekat Kesabaran

Hakekat kesabaran adalah suatu akhlak mulia yang dimiliki seseorang, yang dengannya ia mampu menahan diri dari perbuatan yang tak baik dan tak patut. Sabar adalah salah satu kekuatan seseorang yang dengannya pribadinya menjadi baik.

Al-Junaid bin Muhammad pernah ditanya perihal kesabaran. Ia pun menjawab:

تجرع المرارة من غير تعبس

"(Kesabaran ialah) seperti engkau meneguk minuman pahit tanpa bermuka masam."

Dzu An-Nun berkata:

التباعد عن المخالفات والسكون عند تجرع غصصى البلية وإظهار الغني مع حلول الفقر بساحات المعيشة

"(Kesabaran ialah) menjauhi segala amalan menyimpang, tabah kala cobaan datang, serta bersikap di depan manusia seolah berkecukupan, padahal sebenarnya ia miskin dan pada nafkah hidup betapa ia membutuhkan."

Ada yang berpendapat bahwa kesabaran adalah menghadapi musibah dengan etika yang baik. Ada pula yang berpendapat bahwa kesabaran adalah bersikap tidak membutuhkan apa pun kala alami musibah serta tak mengeluh.

Menata Kehidupan dengan Akal

ORANG berakal mengatur kehidupannya di dunia dengan akalnya. Jika ia miskin, ia akan bersungguh-sungguh bekerja dan mencari uang agar ia tak terhina di mata makhluk. Lalu ia pun mengurangi jumlah pengeluarannya dan memuaskan diri dengan apa yang ada. Karena itu, ia pun hidup dalam keadaan terbebas dari budi orang lain dan terhormat di tengah masyarakat. Sedang jika ia kaya, ia wajib mengatur pengeluarannya, karena ia bisa saja jatuh miskin, lalu ia mesti menghinakan diri kepada orang lain. Salah satu bentuk bencana adalah boros dan melampaui batas dalam berbelanja karena ingin menghina musuk. Padahal, tindakannya ini sejatinya justru bisa membuat musuh menyihirnya.

Seseorang seyogyanya mengambil jalan tengah dalam segala situasi, serta menutupi sesuatu yang tak layak diceritakan kepada orang lain.

Suatu saat, seorang petugas yang memandikan jenazah menemukan uang yang banyak. Ia lantas membelanjakannya sesuka hati. Ketika cerita penemuan uang itu diketahui orang banyak, harta yang ada di tempatnya disita. Ia pun kembali menjadi tak punya apa-apa.

Saturday, March 16, 2013

Menjauhi Bahaya


ORANG yang mendekati bahaya akan dijauhi keselamatan. Dan orang yang mengaku mampu mengendalikan diri akan menderita kerugian. Sangat banyak orang yang ceroboh justru menemui kesialan. Dan anggota tubuh yang paling layak dikendalikan dan diatur adalah lisan dan mata.

Janganlah sekali-kali Anda terkecoh oleh tekad Anda untuk melawan hawa nafsu hingga Anda pun memberanikan diri mendekati bahaya!

Waspadalah, sebab hawa nafsu memiliki banyak tipu daya! Termat banyak pahlawan dan pemberani pilih tanding di medan laga yang tewas terbunuh oleh orang yang sebelumnya dia remehkan! Ingatlah kisah Hamzah dan Wahsyi!

فتبصّر ولا تشم كلّ برقٍ ... ربّ برقٍ فيه صواعق حين
واغضض الطرف تسترح من غرام ... تكتسي فيه ثوب ذل وشين
فبلاء الفتى موافقة النف ... س وبدء الهوى طموح العين

Renungkanlah dalam-dalam dan jangan mudah terkecoh  oleh pesona
Karena kadang cahaya kilat bermuatan petir yang menghancurkan
Peliaralah mata Anda pasti Anda akan merasakan kedamaian
Dan Anda juga akan terjauhkan dari  tindakan yang memalukan
Bencana yang menimba seorang pemuda adalah karena hawa nafsu
Dan awal bencana hawa nafsu adalah mata yang dilepas dan jelalatan”

Sumber:  Shaid Al-Khatiir, Ibnul Jauzy, cet. Darul Uswah, September 2010







Berminat pada buku ini?

Lihat Deskripsi buku ini dan pesan di: http://pustakailmu.com/buku-shaidul-khatir#.UTxQDKKxWoA


Memikirkan Akhir Kehidupan



ORANG  yang memikirkan akhir kehidupan pasti akan menaruh kewaspadaan. Dan orang yang meyakini lamanya perjalanan tentu akan melakukan persiapan.

Aku sungguh heran kepada Anda, wahai orang yang meyakini sesuatu kemudian melupakannya! Aku sungguh takjub pada Anda, wahai orang yang mempercayai bahaya sesuatu tetapi lantas mendekatinya! Dan aku begitu takjub pada Anda kala Anda takut pada manusia padahal Anda seyogyanya hanya takut pada Allah.

Aku sangat kaget melihat Anda yang menuruti keinginan hawa nafsu untuk mengejar apa yang disangkanya,tetapi Anda tidak memaksanya untuk mengejar apa yang Anda yakini.

Hal yang paling mengherankan adalah Anda gembira dalam keterpedayaan Anda, namun Anda lupa apa yang disiapkan untuk Anda.

Monday, March 11, 2013

Merenungi Akibat Perbuatan



ORANG yang memikirkan secara saksama akibat setiap perbuatan sebelum melakukannya pasti akan menuai manfaatnya dan selamat dari madharatnya. Sedang orang yang tak mau merenungkan akibat setiap tindakan pasti akan kalah oleh hawa nafsunya. Keselamatan yang diharapkannya pun justru berubah menjadi kecelakaan, sementara kesenangan yang diinginkannya malah berubah menjadi kesengsaraan.

Sunday, March 10, 2013

Kecenderungan Pada Dunia Dan Akhirat



MENURUT pembawaannya manusia punya kecenderungan yang kuat pada dunia dan ia merupakan bagian tak terpisahkan darinya. Sedang ketertarikan pada akhirat adalah sesuatu yang tidak bersenyawa dengannya, dan ia merupakan bagian yang terpisah darinya.

Orang yang tak punya ilmu sering menganggap kecenderungan pada akhirat sebagai kecenderungan yang (harus) lebih dominan, karena ancaman-ancaman yang didengar seseorang dari Al-Qur’an. Padahal, yang benar tidak demikian.

Kecenderungan tabiat manusia pada dunia tak ubahnya seperti air mengalir yang senantiasa mencari tempat yang lebih rendah, dan bila hendak naik ke atas ia mesti bersusah payah untuk mewujudkannya.

Manusia Berbeda-beda Dalam Memahami Nasihat


 KESADARAN seringkali menyeruak kala sebuah nasihat mengetuk telinga seseorang. Namun, sesaat setelah ia meninggalkan majelis tempat nasihat tersebut diberikan kepadanya, kekerasan hati dan kelalaian jiwa kembali merajai.

Aku (Ibnul Jauzy) mencoba mencari tahu penyebabnya hingga aku pun berhasil mengetahuinya. Aku bahkan berhasil mengetahui bahwa manusia tidak sama dalam kemampuan mempertahankan kesadaran tersebut. Secara umum hati tak terjaga lagi sesudah mendengakan nasihat dikarenakan dua faktor:

Friday, March 8, 2013

SAKARATUL MAUT





Sudah tiba saatnya orang tidur harus bangun. Sudah tiba waktunya orang lalai harus sadar sebelum kematian menjelang dengan membawa minuman yang getir, sebelum semua gerakan ini terhenti, sebelum nafas tak lagi berhembus, sebelum dibawa dan berada di dalam kubur.

Imam Al-Qurthuby rahimahullah menjelaskan, Allah Ta’ala menggambarkan beratnya kematian di empat ayat sebagai berikut:

Pertama
{وَجَآءَتْ سَكْرَةُ ٱلْمَوْتِ بِٱلْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ}

“Dan datanglah sakaratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (Q.S. Qaf: 19)

Kedua

{وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِى غَمَرَٰتِ ٱلْمَوْتِ}

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut” (Q.S. Al-An’am: 93)

Ketiga

{ فَلَوْلَآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلْحُلْقُومَ}

“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,” (Q.S. Al-Waqi’ah: 83)

Keempat

{كَلَّآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلتَّرَاقِىَ}

“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan,” (Q.S. Al-Qiyamah: 26)

Thursday, March 7, 2013

Bentuk-bentuk Pengabaian Terhadap Al-Qur’an



Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



{وَقَالَ ٱلرَّسُولُ يَٰرَبِّ إِنَّ قَوْمِى ٱتَّخَذُوا۟ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ مَهْجُورًۭا}

“Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan".” (Q.S. Al-Furqan: 30)

Ada beberapa perbuatan manusia yang dapat dikategorikan sebagai pengabaian terhadap Al-Qur’an, yaitu:
 

Tuesday, March 5, 2013

Ketakwaan Ada Di Hati



Ibadah Hati

Abu Ad-Darda’ berkata, “Alangkah terpujinya tidur dan berbuka puasanya orang-orang yang bijak lagi dalam pengetahuannya. Lihatlah, bagaimana mereka mengungguli shalat malam dan puasanya orang-orang bodoh. Ingatlah bahwa sebiji sawi ibadah yang dilakukan orang-orang yang bertakwa adalah lebih utama daripada sebesar gunung ibadah yang dilakukan orang-orang yang terperdaya.” (Az-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal, hal 137-138)

Ungkapan ini merupakan salah satu ungkapan yang sarat hikmah. Di samping itu, ia merupakan bukti kesempurnaan pemahaman para sahabat radhiyallahu anhum dan bahwa mereka adalah generasi yang selalu berada di garis terdepan dalam meraih setiap kebaikan daripada generasi yang datang sesudah mereka.

Dan ketahuilah, seorang hamba hanya dapat menempuh jalan menuju Allah dengan hati dan harapannya, bukan sekadar dengan anggota badannya saja.

Hakikat Takwa

Ketakwaan pada hakikatnya terletak pada ketakwaan hati, bukan ketakwaan anggota badan. Pernyataan ini sebagaimana firman Allah Ta’ala berikut:

{ ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ}
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Q.S. Al-Hajj: 32)

{ لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ }

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Q.S. Al-Hajj: 37)

Friday, March 1, 2013

Rintihan


Rintihan

Suara rintihan seorang Muslim ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an, ataupun tatkala mendengarkan nasihat, disebabkan oleh salah satu faktor berikut ini:

Pertama: Munculnya bayangan tentang suatu derajat atau kedudukan yang tidak dimilikinya ketika mendengarkan Al-Qur’an. Dia ingin meraih derajat tersebut, dan saat itulah dia menarik nafasnya. Tarikan nafas semacam ini adalah tarikan nafas yang disebabkan oleh kerinduan terhadap sesuatu.

Kedua: Munculnya bayangan dosa yang pernah diperbuat orang itu, lalu ia menarik nafas karena merasa takut dan cemas terhadap keselamatan dirinya. Tarikan nafas semacam ini adalah tarikan nafas yang disebabkan oleh rasa takut.

Ketiga: Munculnya bayangan mengenai kekurangan yang memang disadari dan diakui ada pada diri orang itu, hingga ia menarik nafas sebagai reaksi atas kesedihannya. Tarikan nafas semacam ini adalah tarikan nafas yang disebabkan oleh dorongan perasaan sedih.

Keempat: Munculnya bayangan kesempurnaan yang ada pada diri kekasih yang dicintai orang itu (Allah), sementara ia melihat kebuntuan jalan menuju kekasih tersebut; sehingga ia menarik nafasnya. Tarikan nafas semacam ini adalah tarikan nafas yang disebabkan oleh penyesalan dan kesedihan.

Kelima: Kekasih yang dicintai orang itu hilang dari ingatannya, dan ia pun disibukkan dengan sesuatu lainnya. Kemudian, ia mendengar sesuatu yang membuatnya teringat kepada kekasihnya ini, hingga terlintaslah di benaknya kecantikan pujaan hati itu, lalu terlihat pintu perantara terbuka dan jalan menuju kekasihnya terpampang jelas, maka ia pun menarik nafasnya. Tarikan nafas semacam ini adalah tarikan nafas yang disebabkan oleh kebahagiaan dan kegembiraan atas munculnya bayangan positif yang terbesit di benaknya.

Intinya, tarikan nafas seperti ini disebabkan oleh munculnya energi yang kuat dan secara tiba-tiba, sementara tempat untuk menanggung beban dari energi tersebut (yakni hati manusia) amat lemah.

Kekuatan energi yang datang dari luar itu memberikan pengaruh ke dalam jiwa seseorang. Kekuatan ini memang tidak tampak atau disadari olehnya, dan yang demikian itu berpengaruh lebih kuat dan lebih lama. Sebab, apabila kekuatan dari luar tersebut tampak oleh seseorang, maka efek yang diakibatkannya akan melemah, bahkan nyaris terputus.

Ketentuan ini berlaku pada tarikan nafas yang dialami oleh orang yang jujur saja. Hal ini mengingat bahwasanya tarikan nafas bisa dilakukan oleh orang yang jujur, orang yang hanya mencuri-curi, maupun orang yang munafik.





Sumber: Fawaaid Al-Fawaaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Penerjemah: A Sjinqithi Djamaluddin
Diketik ulang dari Fawaidul Fawaid, Pustaka Imam Syafi'i

Wednesday, February 27, 2013

Dosa Merupakan Bentuk Penelantaran



Dosa merupakan salah satu bentuk penelantaran atau pengabaian Allah terhadap hamba-Nya. Seandainya Allah tidak membersihkan seorang hamba dari keburukan yang membuatnya berdosa, tentu hamba itu tak mungkin bias membersihkan dirinya sendiri. Oleh sebab itulah, setiap hamba sangat butuh untuk bersimpuh dan memohon kepada-Nya agar diselamatkan dari segala hal yang mengantarkannya kepada dosa. Dan apabila hamba itu sudah melakukan dosa –atas takdir Allah- maka dia pun sangat butuh untuk bersimpuh dan berdoa agar Allah menghindarkannya dari segala akibat dan hukumannya.

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa ada 3 hal pokok yang sangat dibutuhkan oleh seorang hamba; bahkan ia tidak akan beruntung kecuali dengan melakukan ketiganya, yaitu: (1) Bersyukur, (2) Memohon Kesejahteraan, (3) Bertaubat dengan sebenar-benarnya.

Setelah merenungi lebih jauh, ternyata masalah penelantaran Allah terhadap hamba-Nya tidak terlepas dari sikap penuh harap akan keridhaan-Nya dan khawatir akan adzab-Nya. Kedua sikap tersebut tidak berada di tangan hamba, tetapi berada di tangan Allah Yang Membolak-balikkan hati dan Yang mengubahnya sebagaimana dikehendaki-Nya.

Jika Allah memberi taufik kepada hamba itu, niscaya ia akan mampu menghadapkan diri kepada-Nya dengan sepenuh hati, dan hatinya akan dipenuhi perasaan harap dan khawatir tersebut. Sebaliknya, jika Allah ingin menelantarkan hamba tersebut niscaya ia dibiarkan berada dalam keburukannya. Akibatnya, ia tidak mau menghadapkan hatinya kepada Allah dan tidak akan memohon kepada-Nya untuk memberinya taufik.

Sungguh, apa-apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan apa-apa yang tidak dikehentaki-Nya pasti tidak akan pernah terjadi.







Sumber: Fawaaid Al-Fawaaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Diketik ulang dari Fawaidul Fawaid cetakan Pustaka Imam Syafi'i

Nikmat Allah Tiada Terhingga


Setelah merenungi kehidupan di dunia ini, saya berkesimpulan bahwa ada hal penting yang harus kita yakini; yaitu semua nikmat –baik berupa ketaatan maupun kenikmatan duniawi- berasal dari Allah semata. Oleh sebab itu, hendaklah Anda selalu memohon agar Allah menganugerahkan kekuatan untuk senantiasa mengingat dan mensyukuri nikmat-nikmat tersebut.

Allah Ta’ala berfirman:

{ وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍۢ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ}
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (Q.S. An-Nahl: 53)

Allah Ta’ala  juga berfirman:

{ فَٱذْكُرُوٓا۟ ءَالَآءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}

“Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S. Al-A’raaf: 69)

Dan Dia berfirman:

{ وَٱشْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ}
“dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (Q.S. An-Nahl: 114)

Mengingat semua nikmat itu berasal dari Allah dan hanya karena karunia-Nya, maka untuk bias mengingat dan mensyukurinya kita butuh taufik-Nya.




Sumber: Fawaaid Al-Fawaaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Diketik ulang dari Fawaidul Fawaid cetakan Pustaka Imam Syafi'i

Bagaimana Mungkin Ada Penyatuan Antara Keyakinan Kepada Hari Kebangkitan dan Meninggalkan Amal?



Boleh jadi engkau bertanya, “Bagaimana mungkin ada penyatuan antara pembenaran yang tiada keraguan sedikitpun tentang hari berbangkit, surga dan neraka, namun tidak mau beramal? Apakah termasuk dalam tabiat manusia, dia mengetahui bahwa kelak dia akan dituntut di hadapan Allah untuk dihukum dengan hukuman yang pedih atau dimuliakan dengan kemuliaan yang sempurna, lalu saat itu dia lupa dan lalai, tidak ingat sedikit pun apa yang pernah diperbuatnya dan dia tidak akan diberi pembalasan sebagaimana mestinya?”

Dapat dijawab sebagai berikut:

Demi Allah, ini merupakan pertanyaan yang amat bagus, yang juga sering dilontarkan manusia. Menyatukan dua hal ini merupakan sesuatu yang aneh. Adapun keengganan untuk beramal memiliki beberapa sebab, di antaranya adalah pengetahuan yang lemah dan keyakinan yang minim. Siapa yang beranggapan bahwa ilmu itu tidak berbeda-beda, maka itu merupakan perkataan yang jelas batil.

Ibrahim alaihissalam pernah memohon agar Allah memperlihatkan bagaimana Dia menghidupkan orang yang sudah mati, sehingga beliau dapat melihat dengan mata telanjang, setelah beliau mengetahui kekuasaan Allah tentang hal itu, agar hatinya semakin tenang dan mantap, sehingga data yang tadinya berupa sesuatu yang gaib berubah menjadi sesuatu yang nyata.

Ahmad meriwayatkan di dalam Musnad­-nya, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda:

{ لَيْسَ الْخَبَرُ كَالْمُعَايَنَةِ}
“Berita itu tidak seperti yang dilihat”
 

Tertipu Oleh Dunia



Mayoritas manusia tertipu oleh dunia dan kehidupan yang ada, lalu mereka lebih mementingkannya daripada kehidupan akhirat dan lebih ridha kepadanya daripada akhirat. Sampai-sampai di antara mereka ada yang berkata:

الدُّنْيَا نَقْدٌ ، وَالْآخِرَةُ نَسِيئَةٌ ، وَالنَّقْدُ أَحْسَنُ مِنَ النَّسِيئَةِ

“Dunia ini sama dengan pembayaran secara tunai dan akhirat sama dengan pembayaran secara kredit. Tentu saja yang tunai lebih baik daripada yang kredit.”

Ada pula yang berkata:

ذَرَّةٌ مَنْقُودَةٌ ، وَلَا دُرَّةٌ مَوْعُودَةٌ

“Dunia ini adalah sebiji atom yang dibayarkan secara kontan dan bukan sebiji mutiara yang masih dijanjikan.”

Ada pula yang berkata:

لَذَّاتُ الدُّنْيَا مُتَيَقَّنَةٌ ، وَلَذَّاتُ الْآخِرَةِ مَشْكُوكٌ فِيهَا ، وَلَا أَدَعُ الْيَقِينَ بِالشَّكِّ

“Kesenangan dunia ini meyakinkan sedangkan kesenangan akhirat masih meragukan. Aku tidak akan meninggalkan yang meyakinkan dengan sesuatu yang meragukan.”

Tentu saja ini merupakan pemutarbalikan yang dilakukan syetan dan bisikannya. Binatang yang paling bodoh pun lebih menalar daripada orang-orang yang berkata seperti itu. Sebab jika binatang merasa takut kepada sesuatu, ia tidak mau beranjak mendekatinya meskipun ia dilecut dan dipukuli. Sementara di antara orang-orang itu justru memilih kebinasaan bagi dirinya. Jadi dia menempatkan dirinya di antara orang-orang yang membenarkan dan mendustakan.

Tuesday, February 26, 2013

Hanya Untuk Orang Mukmin


Apabilah Allah Ta’ala menahan satu kenikmatan dunia dari hamba-Nya yang beriman, niscaya Dia menggantinya dengan nikmat yang lebih baik dan bermanfaat baginya.

Penggantian berupa kenikmatan yang lebih baik itu hanya dikaruniakan kepada orang Mukmin. Ia sama sekali tidak diberikan kepada selain mereka. Allah Ta’ala sengaja tidak memberikan bagian yang rendah dan hina kepada orang Mukmin –bahkan Dia tidak meridhai hal itu- agar Dia dapat memberinya bagian yang jauh lebih baik lagi mulia.

Hanya saja, ketidaktahuan hamba terhadap kemaslahatan dirinya dan kemurahan Rabbnya, serta hikmah dan kelembutan-Nya, yang membuatnya tidak dapat membedakan antara penlakan dan penundaan dari Allah. Karenanya, ia sangat berharap mendapatkan segala keinginannya di dunia sekalipun itu hina, dan tidak mengharapkan penundaannya hingga akhirat meskipun itu lebih mulia baginya. Seandainya seorang hamba benar-benar mengenal Rabbnya –meskipun hal itu sangat sukar- niscaya ia akan menyadari bahwa karunia Allah berupa ditahannya kesenangan duniawi dari dirinya adalah lebih besar nilainya daripada segala yang pernah diberikan-Nya kepadanya semasa di dunia.

Allah Ta’ala  tidak menolak sesuatu yang diminta hamba-Nya, melainkan karen Dia ingin memberikan yang lebih baik kepada hamba itu. Allah Ta’ala tidak memberikan hamba-Nya cobaan melainkan untuk mensejahterakannya, tidak mengujinya melainkan untuk mensucikannya, tidak mematikannya melainkan untuk menghidupkannya kembali, dan tidak melahirkannya ke dunia ini melainkan agar ia dapat berbekal untuk menemui-Nya dan meniti jalan yang akan mengantarkan kepada-Nya.

Demikianlah. Allah menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran tau orang yang ingin bersyukur. Namun, orang-orang yang zalim tetap memilih kekufuran. Dan hanya kepada Allah saja kita memohon pertolongan.






Sumber: Fawaaid Al-Fawaaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

Diambil dari kitab Fawaidul Fawaid, cetakan Pustaka Imam Syafi'i

Jangan Direpotkan Oleh Rizki Dan Ajal


Pusatkanlah pikiran Anda untuk bisa mengerjakan segala yang diperintahkan kepada Anda. Jangan sibukkan ia dengan urusan rizki dan ajal; karena rizki dan ajal adalah dua hal yang sudah pasti akan menyertai hidup Anda. Selama Anda masih hidup, rizki pasti datang menyapa. Apabila Allah, dengan hikmah-Nya, menutup satu pintu rizki niscaya Dia akan membukakan bagi Anda, dengan rahmat-Nya, pintu rizki lain yang lebih bermanfaat dari pintu sebelumnya.

Renungkanlah bagaimana janin memperoleh makanan –berupa darah- hanya dari satu jalan, yaitu melalui tali pusarnya. Setelah, janin itu keluar dari perut ibunya dan perantara makanan tadi telah diputus, dibukalah bagi janin ini dua jalan untuk mendapatkan rizki yang lebih baik dan lebih lezat; yaitu air susu murni yang mudah ditelan.

Sesudah sempurna masa penyusuan dan kedua jalan tersebut diputus telah sampai masa penyapihan, Allah pun membuka empat jalan lain yang lebih sempurna, yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan yang dimaksud adalah hewan dan tumbuhan, sedangkan dua minuman itu berupa air dan susu; serta berbagai nutrisi tubuh lainnya yang bermanfaat dan lezat.

Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah keempat perantara rizki di atas baginya. Akan tetapi, jika ia termasuk golongan yang berbahagia maka Allah akan membukakan baginya delapan jalan lagi, yaitu pintu-pintu Surha yang berjumlah delapan. Hamba tersebut kelak dapat memasuki Surga itu dari pintu mana saja yang dikehendakinya.

Demikianlah. Apabilah Allah Ta’ala menahan satu kenikmatan dunia dari hamba-Nya yang beriman, niscaya Dia menggantinya dengan nikmat yang lebih baik dan bermanfaat baginya.




Sumber: Fawaaid Al-Fawaaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

Diambil dari kitab Fawaidul Fawaid, cetakan Pustaka Imam Syafi'i