Showing posts with label - MANAJEMEN QALBU. Show all posts
Showing posts with label - MANAJEMEN QALBU. Show all posts

Saturday, March 16, 2013

Menjauhi Bahaya


ORANG yang mendekati bahaya akan dijauhi keselamatan. Dan orang yang mengaku mampu mengendalikan diri akan menderita kerugian. Sangat banyak orang yang ceroboh justru menemui kesialan. Dan anggota tubuh yang paling layak dikendalikan dan diatur adalah lisan dan mata.

Janganlah sekali-kali Anda terkecoh oleh tekad Anda untuk melawan hawa nafsu hingga Anda pun memberanikan diri mendekati bahaya!

Waspadalah, sebab hawa nafsu memiliki banyak tipu daya! Termat banyak pahlawan dan pemberani pilih tanding di medan laga yang tewas terbunuh oleh orang yang sebelumnya dia remehkan! Ingatlah kisah Hamzah dan Wahsyi!

فتبصّر ولا تشم كلّ برقٍ ... ربّ برقٍ فيه صواعق حين
واغضض الطرف تسترح من غرام ... تكتسي فيه ثوب ذل وشين
فبلاء الفتى موافقة النف ... س وبدء الهوى طموح العين

Renungkanlah dalam-dalam dan jangan mudah terkecoh  oleh pesona
Karena kadang cahaya kilat bermuatan petir yang menghancurkan
Peliaralah mata Anda pasti Anda akan merasakan kedamaian
Dan Anda juga akan terjauhkan dari  tindakan yang memalukan
Bencana yang menimba seorang pemuda adalah karena hawa nafsu
Dan awal bencana hawa nafsu adalah mata yang dilepas dan jelalatan”

Sumber:  Shaid Al-Khatiir, Ibnul Jauzy, cet. Darul Uswah, September 2010







Berminat pada buku ini?

Lihat Deskripsi buku ini dan pesan di: http://pustakailmu.com/buku-shaidul-khatir#.UTxQDKKxWoA


Friday, March 1, 2013

Rintihan


Rintihan

Suara rintihan seorang Muslim ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an, ataupun tatkala mendengarkan nasihat, disebabkan oleh salah satu faktor berikut ini:

Pertama: Munculnya bayangan tentang suatu derajat atau kedudukan yang tidak dimilikinya ketika mendengarkan Al-Qur’an. Dia ingin meraih derajat tersebut, dan saat itulah dia menarik nafasnya. Tarikan nafas semacam ini adalah tarikan nafas yang disebabkan oleh kerinduan terhadap sesuatu.

Kedua: Munculnya bayangan dosa yang pernah diperbuat orang itu, lalu ia menarik nafas karena merasa takut dan cemas terhadap keselamatan dirinya. Tarikan nafas semacam ini adalah tarikan nafas yang disebabkan oleh rasa takut.

Ketiga: Munculnya bayangan mengenai kekurangan yang memang disadari dan diakui ada pada diri orang itu, hingga ia menarik nafas sebagai reaksi atas kesedihannya. Tarikan nafas semacam ini adalah tarikan nafas yang disebabkan oleh dorongan perasaan sedih.

Keempat: Munculnya bayangan kesempurnaan yang ada pada diri kekasih yang dicintai orang itu (Allah), sementara ia melihat kebuntuan jalan menuju kekasih tersebut; sehingga ia menarik nafasnya. Tarikan nafas semacam ini adalah tarikan nafas yang disebabkan oleh penyesalan dan kesedihan.

Kelima: Kekasih yang dicintai orang itu hilang dari ingatannya, dan ia pun disibukkan dengan sesuatu lainnya. Kemudian, ia mendengar sesuatu yang membuatnya teringat kepada kekasihnya ini, hingga terlintaslah di benaknya kecantikan pujaan hati itu, lalu terlihat pintu perantara terbuka dan jalan menuju kekasihnya terpampang jelas, maka ia pun menarik nafasnya. Tarikan nafas semacam ini adalah tarikan nafas yang disebabkan oleh kebahagiaan dan kegembiraan atas munculnya bayangan positif yang terbesit di benaknya.

Intinya, tarikan nafas seperti ini disebabkan oleh munculnya energi yang kuat dan secara tiba-tiba, sementara tempat untuk menanggung beban dari energi tersebut (yakni hati manusia) amat lemah.

Kekuatan energi yang datang dari luar itu memberikan pengaruh ke dalam jiwa seseorang. Kekuatan ini memang tidak tampak atau disadari olehnya, dan yang demikian itu berpengaruh lebih kuat dan lebih lama. Sebab, apabila kekuatan dari luar tersebut tampak oleh seseorang, maka efek yang diakibatkannya akan melemah, bahkan nyaris terputus.

Ketentuan ini berlaku pada tarikan nafas yang dialami oleh orang yang jujur saja. Hal ini mengingat bahwasanya tarikan nafas bisa dilakukan oleh orang yang jujur, orang yang hanya mencuri-curi, maupun orang yang munafik.





Sumber: Fawaaid Al-Fawaaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Penerjemah: A Sjinqithi Djamaluddin
Diketik ulang dari Fawaidul Fawaid, Pustaka Imam Syafi'i

Tuesday, February 26, 2013

Jangan Direpotkan Oleh Rizki Dan Ajal


Pusatkanlah pikiran Anda untuk bisa mengerjakan segala yang diperintahkan kepada Anda. Jangan sibukkan ia dengan urusan rizki dan ajal; karena rizki dan ajal adalah dua hal yang sudah pasti akan menyertai hidup Anda. Selama Anda masih hidup, rizki pasti datang menyapa. Apabila Allah, dengan hikmah-Nya, menutup satu pintu rizki niscaya Dia akan membukakan bagi Anda, dengan rahmat-Nya, pintu rizki lain yang lebih bermanfaat dari pintu sebelumnya.

Renungkanlah bagaimana janin memperoleh makanan –berupa darah- hanya dari satu jalan, yaitu melalui tali pusarnya. Setelah, janin itu keluar dari perut ibunya dan perantara makanan tadi telah diputus, dibukalah bagi janin ini dua jalan untuk mendapatkan rizki yang lebih baik dan lebih lezat; yaitu air susu murni yang mudah ditelan.

Sesudah sempurna masa penyusuan dan kedua jalan tersebut diputus telah sampai masa penyapihan, Allah pun membuka empat jalan lain yang lebih sempurna, yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan yang dimaksud adalah hewan dan tumbuhan, sedangkan dua minuman itu berupa air dan susu; serta berbagai nutrisi tubuh lainnya yang bermanfaat dan lezat.

Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah keempat perantara rizki di atas baginya. Akan tetapi, jika ia termasuk golongan yang berbahagia maka Allah akan membukakan baginya delapan jalan lagi, yaitu pintu-pintu Surha yang berjumlah delapan. Hamba tersebut kelak dapat memasuki Surga itu dari pintu mana saja yang dikehendakinya.

Demikianlah. Apabilah Allah Ta’ala menahan satu kenikmatan dunia dari hamba-Nya yang beriman, niscaya Dia menggantinya dengan nikmat yang lebih baik dan bermanfaat baginya.




Sumber: Fawaaid Al-Fawaaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

Diambil dari kitab Fawaidul Fawaid, cetakan Pustaka Imam Syafi'i

Sunday, February 10, 2013

Kasih Sayang Secara Batin

Apabila Anda bertanya, “Seperti apakah kasih sayang secara batin yang diperoleh hamba ketika ditimpa musibah?” maka kami jelaskan sebagai berikut:

Kasih sayang secara batin adalah sesuatu yang akan menciptakan ketenangan dan kedamaian, serta menghilangkan keresahan, kegundahan, dan keluh kesah dari hati hamba ketika tertimpa musibah.

Pada kondisi demikian, seorang hamba akan merendahkan diri di hadapan Rabbnya dengan penuh rasa hina, memandang-Nya dengan hatinya, dan bersimpuh kepada-Nya dengan segenap jiwanya. Pengakuan terhadap kasih sayang Allah telah menyibukkan dirinya dari kepedihan deritanya. Keyakinannya tentang kebaikan takdir Allah membuatnya tidak merasakan lagi pahit musibahnya. Ia pun menyadari kalau dirinya semata-mata seorang hamba yang –suka atau tidak suka- mesti menjalani takdir Rabbnya. Jika ridha akan hal itu, niscaya ia akan mendapatkan keridhaan-Nya. Namun, jika ia tidak ridha, maka kemurkaan-Nya lah yang akan diperolehnya.

Kasih sayang secara batin ini merupakan buah dari mu’amalah bathiniyyah (kesalehan batin). Semakin saleh batinnya, semakin bertambah kasih sayang secara batin yang diperolehnya. Sebaliknya, semakin berkurang kesalihan batinnya, maka semakin berkurang kasih sayang secara batin yang diraihnya.


  
------------------------------

Sumber: Fawaaid Al-Fawaaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Penerjemah: A. Sjinqithi Djamaluddin

ditulis dan ditata ulang oleh Hasan Al-Jaizy


Aturan di balik Perintah dan Musibah


Seorang hamba Allah tidak akan terlepas dari perintah dan musibah-Nya. Ia membutuhkan, bahkan sangat membutuhkan pertolongan-Nya ketika menerima perintah sedangkan ketika mendapatkan musibah, ia membutuhkan uluran kasih sayang-Nya.

Kasih sayang yang ia dapatkan ketika ditimpa musibah sebanding dengan kadar perintah Allah yang dikerjakannya. Jika dia melaksanakan perintah itu secara sempurna, lahir dan batin, niscaya ia akan mendapatkan kasih sayang secara lahir dan batin. Akan tetapi, jika perintah itu dilaksanakan dalam bentuk lahirnya saja, tanpa mencakup hakikatnya, niscaya ia hanya akan memperoleh kasih sayang secara lahiriah, namun sedikit sekali kasih sayang secara batin yang diraihnya.


------------------------------

Sumber: Fawaaid Al-Fawaaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Penerjemah: A. Sjinqithi Djamaluddin

ditulis dan ditata ulang oleh Hasan Al-Jaizy


Pentingnya Menautkan Hati Hanya Kepada Allah


Hikmah tauhid yang tersirat adalah bahwasanya hati tidak akan tenang, tenteram dan damai kecuali dengan tersambung dan sampai kepada Allah. Kecintaan dan keinginan terhadap sesama makhluk tidak boleh ditujukan kepada dzatnya. Karena, tidak ada yang boleh diinginkan dan dicintai karena dzatnya kecuali Allah, dan segala sesuatu pasti akan berpulang kepada-Nya. Mustahil jika segala sesuatu berakhir kepada dua dzat yang berbeda, sebagaimana mustahilnya penciptaan makhluk oleh dua dzat berbeda.

Maka itu, siapa saja yang kecintaan, keinginan, kehendak dan ketaatannya ditujukan kepada selain Allah, niscaya semua itu akan sia-sia dan lenyap begitu saja. Bahkan orang tersebut akan ditinggalkan oleh sesuatu yang paling dibutuhkannya. Sebaliknya, siapa saja yang cinta, harapan dan kecemasannya hanya ditujukan kepada Allah Ta’ala, niscaya ia akan mendapatkan keuntungan abadi berupa kenikmatan, kelezatan, kebahagiaan dan keberkahan dari-Nya.


------------------------------

Sumber: Fawaaid Al-Fawaaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Penerjemah: A. Sjinqithi Djamaluddin

ditulis ulang oleh Hasan Al-Jaizy


Saturday, February 9, 2013

Ikhlas, Hanya Untuk Allah




Allah Ta’ala berfirman:

وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلَّا عِندَنَا خَزَآئِنُهُۥ

“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya” (Q.S. Al-Hijr: 21)

Di antara mutiara hikmah yang terkandung dalam ayat ini yaitu segala sesuatu tidak dapat diminta melainkan dari Allah semata. Karena Dialah Yang Maha Memiliki perbendaharaan dan di tangan-Nya lah kunci-kunci semua perbendaharaan itu. Sehingga, meminta kepada selain-Nya berarti meminta kepada makhluk yang tidak mempunyai kekayaan dan tidak mampu mewujudkan keinginan.

Di dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلْمُنتَهَىٰ

“dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),” (Q.S. An-Najm: 42)