Showing posts with label - TAFSIR AL-QUR'AN. Show all posts
Showing posts with label - TAFSIR AL-QUR'AN. Show all posts

Monday, March 11, 2013

002 Tafsir Al-Baqarah: Ayat 008-009


008 - {وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ}

009 – { يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ }


008 - “Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.”

009 – “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.”


Tuesday, March 5, 2013

002 Tafsir Al-Baqarah: Ayat 7



{خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ}

“Allah telah mengunci mati hati dan pendegaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.”

TAFSIR AS-SA’DY

{ خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ } “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka,” yakni menutupnya dengan penutup yang tidak dapat dimasuki oleh keimanan dan tidak bisa ditembus, sehingga mereka tidak memahami apa yang berguna bagi mereka dan apapun yang mereka dengarkan tidak bermanfaat untuk mereka. { وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ } “dan penglihatan mereka ditutup,” yakni pelapis, penutup, dan penghalang yang menghalangi mereka dari melihat yang berguna bagi mereka, dan jalan-jalan ilmu dan kebaikan telah ditutup bagi mereka. Tidak ada keinginan pada mereka dan tidak ada kebaikan yang diharapkan pada mereka. Mereka telah dihalangi dan ditutup bagi mereka pintu-pintu keimanan, disebabkan oleh kekufuran dan pengingkaran mereka serta keras kepala mereka setelah jelas bagi mereka kebenaran itu, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

{ وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ }

“Dan Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya pada permulaannya.” (Q.S. Al-An’am: 110)

Dan ini hanyalah hukuman yang sekarang, kemudian Allah menyebutkan hukuman yang akan datang seraya berfirman: { وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ } “dan bagi mereka siksa yang amat pedih” yakni adzab api neraka, kemurkaan yang Mahaperkasa yang terus-menerus dan selamanya.






 Terjemahan tafsir mengandalkan kitab Tafsir Al-Qur'an (Tafsir As-Sa'dy) cetakan Pustaka Shahifa.

Disusun dan ditulis oleh Hasan Al-Jaizy



002 Tafsir Al-Baqarah: Ayat 6



{إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ}

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.”


TAFSIR AS-SA’DY

Allah Ta’ala berfirman, { إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا } “Sesungguhnya orang-orang kafir,” yakni mereka yang bersifat dengan kekufuran dan terwarnai dengannya, lalu menjadi sifat yang lazim bagi mereka, di mana tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi mereka darinya, nasihat tidak berguna pada mereka dan mereka selalu tetap dalam kekufuran mereka, maka sama saja bagi mereka, { أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ } “kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.”

Hakikat kekufuran adalah mengingkari sesuatu yang datang dari Rasul atau mengingkari sebagiannya. Tidak akan ada manfaatnya dakwah bagi orang-orang kafir itu, kecuali hanya sebatas menegakkan hujjah atas mereka, seolah-olah dalam hal ini hanya pemutus bagi keinginan kuat Rasulullah dalam mewujudkan keimanan mereka, dan bahwasanya kamu jangan bersedih hati untuk mereka, dan bahwasanya dirimu tidak boleh berputus asa terhadap mereka.





Terjemahan tafsir mengandalkan kitab Tafsir Al-Qur'an (Tafsir As-Sa'dy) cetakan Pustaka Shahifa.

Disusun dan ditulis oleh Hasan Al-Jaizy

002 Tafsir Al-Baqarah: Ayat 5

5 - {أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ}

5 - “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang beruntung.”


TAFSIR AS-SA’DY

{ أُولَئِكَ } “Mereka itulah,” yaitu yang bersifat dengan sifat-sifat terpuji tersebut { عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ }  “yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka,” yakni yang tetap di atas petunjuk yang besar; karena pemakaian kata yang tidak terbatas (nakirah) adalah untuk ungkapan mengagungkan. Dan hidayah apalagi yang lebih agung dari sifat-sifat yang telah disebutkan yang mengandung keyakinan yang benar dan perbuatan-perbuatan yang lurus? Pada hakikatnya hidayah itu hanya seperti hidayah yang ada pada mereka tersebut, sedangkan apa-apa yang bertentangan dengan itu adalah kesesatan. Dan dipakai kata عَلى (di atas) dalam posisi kalimat di sini menujukkan pada ketinggian, adapaun dalam posisi kata kesesatan memakai kata فِي (di dalam) sebagaimana dalam firman-Nya:


{ وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَى هُدًى أَوْ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ }

“Dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik) pasti berada di atas kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Saba: 24)

Hal itu karena ahli hidayah adalah tinggi dengan hidayah tersebut. Adapun ahli kesesatan yang tenggelam di dalamnya adalah terhina.

Kemudian Allah berfirman, { وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ } “Dan merekalah orang-orang yang beruntung.” Keberuntungan adalah memperoleh hal yang diinginkan dan selamat dari hal yang dikhawatirkan. Pembatasan keberuntungan hanya pada mereka, karena tidak ada jalan menuju kepada keberuntungan kecuali dengan menempuh jalan mereka tadi, dan jalan-jalan selain jalan tersebut, maka itu semua adalah jalan kesengsaraan, kehancuran, dan kerugian yang akan menjerumuskan penempuhnya kepada kebinasaan. Oleh karena itu, ketika Allah menyebutkan sifat-sifat kaum Mukminin yang hakiki, Dia menyebutkan pula sifat-sifat kaum kafir yang menampakkan kekufuran mereka yang durhaka kepada Rasul di ayat berikutnya.




Terjemahan tafsir mengandalkan kitab Tafsir Al-Qur'an (Tafsir As-Sa'dy) cetakan Pustaka Shahifa.

Disusun dan ditulis oleh Hasan Al-Jaizy


Saturday, February 23, 2013

002 TAFSIR AL-BAQARAH: Ayat 4



4 - {وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ}

3 -“dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.”

Kosakata

[يُؤْمِنُونَ] : Mereka beriman

[أُنْزِلَ] : Diturunkan.

[قَبْلِكَ] : Qabl bermakna ‘sebelum’. Dan dhomir setelahnya bermakna ‘kamu’.

[الْآخِرَةِ] : Hari Akhir

[يُوقِنُونَ] : Mereka meyakini.



TAFSIR (Tafsir As-Sa’dy):


Kemudian Allah berfirman, {وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ} “Dan mereka yang beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu” yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah berfirman:

{وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ }

“Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab  (Al-Qur’an) dan hikmah (As-Sunnah) kepadamu,” (Q.S. An-Nisa: 113)

Maka orang-orang yang bertakwa itu beriman kepada seluruh perkara yang datang dari Rasul, dan mereka tidak membeda-bedakan antara sebagian dengan lainnya dari apa yang diturunkan kepadanya, di mana dia beriman dengan sebagiannya, dan tidak beriman dengan sebagiannya, baik dengan cara mengingkarinya atau dengan mentakwilkannya dari maksud yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang melakukan bid’ah yang mentakwilkan nash-nash yang bertentangan dengan pendapat mereka, yang pada implikasinya tidak mempercayai makna-maknanya walaupun mereka mempercayai kata-katanya, sehingga (hakikatnya) mereka tidak beriman kepadanya secara hakiki.

Dan firman-Nya, {وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ } “Dan apa yang telah diturunkan sebelummua,” meliputi keimanan kepada seluruh kitab-kitab terdahulu, dan keimanan kepada kitab-kitab mencakup keimanan kepada Rasul-rasul dan kepada hal-hal yang meliputinya, khususnya Taurat, Injil, dan Zabur. Dan ini adalah keistimewaan kaum Mukminin yang beriman kepada kitab-kitab langit seluruhnya, dan kepada seluruh Rasul-rasul, dan mereka tidak membeda-bedakan salah satu di antara mereka.

002 TAFSIR AL-BAQARAH: Ayat 3



 3 - {ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ }

3 -“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,”



Kosakata

[يُؤْمِنُونَ] : Mereka beriman

[ٱلْغَيْبِ] : Hal/sesuatu yang gaib, yaitu yang sejatinya tak dijangkau oleh panca indera. Dalam hal ini, termaksudkan di antaranya adalah Rabb secara Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, para malaikat, dan lainnya.

[الصلاة] : Shalat, dengan menjaganya tepat pada waktunya, juga syarat-syarat sahnya, rukun-rukunnya, sunnah-sunnahnya dan hal-hal yang terkait dengannya.

[يُنْفِقُونَ] : Mereka berinfak/menafkahkan.



TAFSIR (Tafsir As-Sa’dy):


{الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ} “Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib”. Hakikat keimanan adalah pembenaran yang total terhadap apa pun yang dikabarkan oleh para Rasul, yang meliputi ketundukan anggota tubuh. Perkara keimanan itu tidak hanya kepada hal-hal yang dapat diperoleh oleh panca indera semata, karena hal ini tidaklah mampu membedakan antara seorang Muslim dengan seorang kafir, namun perkara yang dianggap dalam keimanan kepada yang gaib adalah yang tidak kita lihat dan tidak kita saksikan, namun kita hanya mengimaninya saja karena ada kabar dari Allah dan kabar dari Rasul-Nya.

Inilah keimanan yang mampu membedakan antara seorang Muslim dengan seorang kafir, karena itulah pembenaran yang utuh terhadap Allah dan Rasul-Nya. Maka seorang yang beriman adalah yang mengimani segala sesuatu yang dikabarkan oleh Allah atau yang dikabarkan oleh Rasul-Nya, baik yang dia saksikan ataupun tidak, baik dia mampu memahami dan masuk dalam akalnya, ataupun akal dan pemahamannya tidak mampu mencernanya. Berbeda dengan orang-orang atheis yang mendustakan perkara-perkara gaib, karena akal-akal mereka yang terbatas lagi lalai tidak sampai kepadanya, akhirnya mereka mendustakan apa yang tidak mampu dipahami oleh ilmu mereka, yang pada akhirnya rusaklah akal-akal mereka, sia-sialah harapan mereka, dan (sebaliknya) bersihlah akal kaum Mukminin yang membenarkan lagi mengambil hidayah dengan petunjuk Allah.

002 TAFSIR AL-BAQARAH: Ayat 1-2



1 -       {الٓمٓ}

2 -{ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًۭى لِّلْمُتَّقِينَ}

1 - “Alif Laam Miim.”

2 – “Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”


Kosakata

[ذَٰلِكَ] : Ini; diartikan ‘ini’ dengan pengisyaratan dekat namun lafadznya adalah isyarat jauh menunjukkan ketinggian manzilah dan kadarnya.

[ٱلْكِتَٰبُ]: Kitab (yang dimaksud adalah Al-Qur’an)

[رَيْب] : Keraguan

[هُدۭى] : Petunjuk

[لِّلْمُتَّقِينَ] : Lam bermakna: untuk; bagi. Sementara Al-Muttaqiin adalah orang-orang bertaqwa.



TAFSIR (Tafsir As-Sa’dy):

Saturday, February 16, 2013

001 TAFSIR AL-FATIHAH: Ayat 7


7 -{صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ }

7 - “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”


Kosakata

[ٱلَّذِينَ]: Yang

[أَنْعَمْتَ] : Engkau anugerahkan (berikan) nikmat

[غَيْرِ] : Bukan; selain

[ٱلْمَغْضُوبِ] : Yang dimurkai

[ٱلضَّآلِّينَ] : Orang-orang yang sesat


TAFSIR (Tafsir As-Sa’dy):

{ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ} “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka”, dari para Nabi, orang-orang yang benar dalam keimanan (Ash-Shiddiiquun), para syuhada, dan orang-orang shalih, bukan jalan { ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ } “mereka yang dimurkai” yang mengetahui kebenaran namun meninggalkan kebenaran tersebut seperti Yahudi, dan semisal mereka. Dan bukan pula { ٱلضَّآلِّينَ } “mereka yang sesat” yakni orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan seperti Nasrani dan semisal mereka.

001 TAFSIR AL-FATIHAH: Ayat 6

6 -{ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ}

6 - “Tunjukilah kami jalan yang lurus,”


Kosakata

[ٱهْدِنَا]: Berilah hidayah (petunjuk) pada kami. نَا adalah kata ganti sebagai objek yang berarti ‘kami’.

[ٱلصِّرَٰطَ] : Jalan

[ٱلْمُسْتَقِيمَ] : Yang lurus. Ini adalah sifat bagi jalan tersebut. Istiqamah adalah kelurusan.


TAFSIR (Tafsir As-Sa’dy):

{ ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ} “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Maksudnya, tuntunlah kami, bimbinglah kami, dan arahkan kami kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang sangat jelas yang menghantarkan kepada Allah dan kepada surga-Nya, yaitu mengetahui kebenaran dan melaksanakannya. Tunjukilah kami kepada jalan tersebut dan juga tunjukilah kami di jalan itu. Maka petunjuk kepada jalan adalah konsiten terhadap agama Islam dan meninggalkan agama-agama selainnya.

Petunjuk kepada jalan meliputi petunjuk kepada seluruh perincian-perincian agama baik ilmu maupun amalannya. Oleh karena itu, doa ini adalah termasuk doa yang paling lengkap dan paling berguna bagi seorang hamba. Dengan demikian, maka wajiblah atas manusia untuk berdoa kepada Allah dengan doa ini dalam setiap rakaat shalatnya, karena kebutuhannya yang sangat kepada hal tersebut.

-------------------------

Terjemahan tafsir mengandalkan kitab Tafsir Al-Qur'an (Tafsir As-Sa'dy) cetakan Pustaka Shahifa.

Disusun dan ditulis oleh Hasan Al-Jaizy


001 TAFSIR AL-FATIHAH: Ayat 5


5 -{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}

5 - “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”


Kosakata

[إِيَّاكَ]: Pada Engkau. Sebuah kata ganti objek yang didahulukan di awal kalimat; mengisyaratkan pengkhususan, sehingga maknanya ‘Hanya kepada Engkau (saja) lah”

[نَعْبُدُ] : Kami menyembah; kami beribadah.

[نَسْتَعِينُ] : Kami meminta (memohon) bantuan atau pertolongan.


TAFSIR (Tafsir As-Sa’dy):

Firman-Nya { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} “Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan”, yakni kami mengkhususkan kepada-Mu semata, kami peruntukkan segala ibadah dan permintaan akan pertolongan. (Dimaknai demikian) karena mendahulukan suatu kata yang menjadi objek menunjukkan suatu pembatasan, yaitu menetapkan hal tersebut bagi yang disebutkan dan meniadakannya dari selainnya. Maka seolah-olah berkata, kami menyembah-Mu, dan tidak menyembah selain diri-Mu, kami meminta pertolongan kepada-Mu, dan tidak meminta pertolongan pada selain diri-Mu. Didahulukannya penyebutan ibadah daripada permintaan akan pertolongan adalah di antara bentuk mendahulukan hal yang umum dari hal yang khusus, serta perhatian dalam mendahulukan hak-hak Allah daripada hak hamba-Nya.

001 TAFSIR AL-FATIHAH: Ayat 3-4


3 -{ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ}

4 -{مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ}


3 - “Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

4 - “Yang menguasai Hari Pembalasan.


Kosakata

[ٱلرَّحْمَٰنِ]: Yang Maha Pengasih

[ٱلرَّحِيمِ] : Yang Maha Penyayang

[مَٰلِكِ] : Yang Memiliki (Menguasai)

[يَوْمِ] : Hari

[ٱلدِّينِ] : Agama. Di sini dimaksudkan sebagai pembalasan. Yaum Ad-Diin: Hari Pembalasan atau Hari Kiamat.


TAFSIR (Tafsir As-Sa’dy):

{ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ} “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” Lihat: Tafsir Al-Fatihah Ayat 1

{ مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ } “Yang Menguasai Hari Pembalasan”. Yakni Yang Menguasai, yaitu Dzat yang bersifat memiliki, yang di antara tanda-tandanya adalah bahwa Dia memerintah dan melarang, memberikan balasan dan memberikan hukuman, bertindak dengan kekuasaan-Nya dengan segala bentuk tindakan.