Showing posts with label ILMU. Show all posts
Showing posts with label ILMU. Show all posts

Saturday, February 23, 2013

Persepsi Hamba Bukanlah Tolak Ukur



Allah berfirman:

{كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ}

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini berbicara tentang jihad yang merupakan puncak dorongan amarah (karena Allah). Pada umumya, seorang hamba tidak suka menghadapi jihad fisik karena ia takut dirinya akan dicelakai oleh musuhnya. Padahal, jihad yang tidak disukainya itu adalah lebih baik bagi dirinya di dunia dan akhirat. Sebaliknya, ia lebih menyukai berdamai dengan musuh dan tidak berjihad melawan mereka. Padahal, yang demikian itu buruk bagi dirinya di dunia maupun di akhirat.

Demikian pula, terkadang seorang suami tidak suka kepada istrinya karena salah satu sifatnya sehingga ia pun memutuskan untuk menceraikannya. Padahal, mempertahankan rumah tangganya bersama istrinya adalah jauh lebih baik bagi dirinya, hanya saja ia tidak mengetahui hakikat ini. Terkadang pula, seorang suami suka kepada istrinya karena salah satu sifatnya sehingga ia pun memutuskan untuk tetap berumah tangga dengannya. Padahal, jika ia tetap bertahan dengan istrinya itu, maka keburukan yang menyertainya justru lebih banyak, hanya saja ia tidak mengetahui hakikat tersebut.

Monday, February 18, 2013

Ilmu dan Iman



Sebaik-baik hasil yang diperoleh manusia dan direngkuh hatinya adalah ilmu dan iman. Dengan kedua hal inilah seorang hamba bisa meraih derajat yang tinggi di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Allah Ta’ala menyebutkan keduanya di dalam firman-Nya:

{ وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ وَٱلْإِيمَٰنَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْبَعْثِ ۖ }

“Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): "Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit” (Q.S. Ar-Ruum: 56)

Begitu pula, dalam firman Allah Ta’ala:

{ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍۢ }

“niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Q.S. Al-Mujadilah: 11)

Orang-orang yang beriman dan berilmu itu adalah ikhtishaar atau intisari dari semua makhluk.  Merekalah yang berhak menyandang derajat tinggi.

Namun sayangnya sebagian besar manusia masih keliru dalam memahami hakikat ilmu dan iman, dua sarana untuk meraih kebahagiaan dan derajat yang tinggi. Akibatnya, masing-masing golongan mengira bahwa ilmu dan iman yang mereka miliki adalah ilmu dan iman yang dapat membuat mereka memperoleh kebahagiaan, padahal sebenarnya tidak demikian. Justru, sebagian besar dari mereka tidak mempunyai iman yang menyelamatkan dan ilmu yang mengangkat derajat mereka. Mereka telah menutup jalan untuk meraih ilmu dan iman yang dibawa dan diserukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada seluruh umatnya. Padahal, ilmu dan iman itulah yang menjadi pegangan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat sepeniggal beliau, beserta semua orang yang mengiktui jalan dan jejak mereka.




Sumber: Fawaaid Al-Fawaaid, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah
terjemahan Pustaka Imam Asy-Syafi'i

Friday, February 15, 2013

Pintu-pintu Ma’rifatullah

Ada dua pintu (cara) yang sangat lebar untuk bisa sampai kepada ma’rifatullah jenis yang kedua, yaitu sebagai berikut:

Pertama: Dengan memikirkan dan merenungi seluruh ayat Al-Qur’an, disertai pemahaman yang mendalam tentang Allah dan Rasul-Nya.

Kedua:  Dengan memikirkan ayat-ayat Allah yang terlihat (ciptaan-Nya) dan merenungi hikmah-Nya di balik ayat-ayat tersebut; serta memikirkan kekuasaan-Nya, kelembutan-Nya, kebaikan-Nya, keadilan-Nya, dan perlakuan adil-Nya terhadap makhluk.

Tujuan dari semua ini ialah; dengan memahami makna Asma’ Al-Husna, keagungan dan kesempurnaan nama-nama-Nya, dan bahwa hanya Allah semata yang memiliki nama-nama tersebut, serta hubungan semua nama itu dengan makna penciptaan dan perintah; diharapkan seseorang menjadi hamba yang faham betul akan hakikat semua perintah dan larangan-Nya, qadha’ dan qadar-Nya, mengerti tentang asma dan sifat-Nya, serta memahami hakikat ketetapan-ketetapan agama yang bersifat syar’I (berdasarkan dalil naqli) maupun yang bersifat kauni (yang ada dalam alam semesta).

{ذَٰلِكَ فَضْلُ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ}

“Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Q.S. Al-Hadid: 21)



Sumber: Fawaaid Al-Fawaaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Penerjemah: A. Sjinqithi Djamaluddin

diketik  ulang oleh Hasan Al-Jaizy


Bentuk-bentuk Ma’rifatullah


Bentuk mengenal Allah Ta’ala atau yang lebih dikenal dengan ma’rifatullah terdiri atas dua macam:

Pertama: Ma’rifat Iqraar (mengenal Allah sebatas pengakuan). Ma’rifat ini dimiliki semua orang, yang baik maupun yang jahat, yang taat maupun yang durhaka.

Kedua: Ma’rifat yang membuat hamba malu kepada Allah sekaligus cinta kepada-Nya. Ma’rifat ini menjadikan hati hamba hanya bergantung pada-Nya dan selalu rindu untuk bertemu dengan-Nya; yang membuat takut dan hanya berserah diri kepada-Nya; merasa dekat dengan-Nya dan melepaskan diri dari makhluk agar dapat menuju kepada-Nya.

Jenis yang terakhir ini merupakan bentuk ma’rifat khusus, sebagaimana dikenal dalam istilah golongan tertentu (yang dimaksud adalah orang-orang zuhud dan ahli ibadah). Manusia memiliki tingkat yang berbeda-beda dalam ma’rifat semacam ini, dan hanya Allah yang mengetahui perbedaan tingkatan mereka. Karena, Dialah yang membuat mereka mengenal diri-Nya dan membuka hati mereka untuk mengenal-Nya sebatas tingkat yang tidak dianugerahkan kepada yang lain. Meskipun tingkatannya berbeda-beda, tapi semua bentuk ma’rifat mereka mengarah kepada ma’rifat yang kedua ini, sesuai dengan kadar yang dianugerahkan kepada masing-masing.

Sunday, February 10, 2013

Obat Penyakit Kebodohan Adalah Bertanya


Hal ini mencakup segala macam penyakit hati, fisik dan ruh, serta obat penyembuhnya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam menganggap kebodohan sebagai penyakit. Adapun penyembuhnya ialah bertanya kepada orang-orang berilmu.

Abu Daud meriwayatkan di dalam Sunan-nya dari hadits Jabir bin Abdullah, dia berkata, “Kami pernah keluar dalam suatu perjalanan jauh. Ada seseorang di antara kami yang terkena batu sehingga membuat kepalanya terluka. Kemudian dia mimpi sehingga keluar mani pada malam harinya. Dia bertanya kepada beberapa sahabat, “Apakah menurut kalian aku mendapatkan keringanan untuk bertayammum?”

Mereka menjawab, “Menurut pendapat kami, engkau tidak mendapatkan keringanan, karena engkau masih mampu bersentuhan dengan air.”

Maka orang itu pun mandi yang mengakibatkan kematiannya. Saat kami tiba dan menghadap kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka kami menceritakan kejadian ini. Beliau bersabda, “Mereka telah membunuhnya, dan Allah akan membunuh mereka. Mengapa mereka tidak bertanya kalau memang tidak tahu? Sesungguhnya kesembuhan dari kebodohan ialah bertanya. Sesungguhnya cukup baginya bertayammum dan mengusap pada lukanya. Dan ia dapat membasuh seluruh badannya.”[1]

Begitulah beliau mengabarkan bahwa kebodohan itu merupakan penyakit, dan obat penyembuhnya adalah bertanya.


[1] Dhaif, Sunan Abu Daud, no.336

------------------------------------

Sumber: Al-Jawaab Al-Kaafy, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Penerjemah: Kathur Suhardi
ditulis ulang oleh Hasan Al-Jaizy